Posted in poetry

​Maaf Kalau Tidak Tahu Diri

Maaf kalau aku tidak tahu diri
Padahal sudah banyak pertanda yang kau beri
Bukankah rasanya kau ingin memaki
padaku yang tak kunjung mengerti?

Baik, aku akan mundur perlahan
Satu, dua, tiga, semoga kini tidak tertahan
Bukankah aku sudah cukup memuakkan?
Menghadapiku adalah suatu kelelahan

Jika menjelaskan padamu adalah mustahil
Apalagi memilikimu pasti nihil
Anggap saja perasaanku ini kerikil
Tidak berarti, tidak perlu banyak dipikir

Di bawah pikiranku pada gelap malam
Itu adalah segala tentangmu yang serba tak karuan
Tapi mulai hari ini hendaknya tiada perlu pedulimu ditunjukkan
Memang begitu maumu, kan?

22 Juli 2017/ 01:48

Advertisements
Posted in thoughts

​Untuk Masyarakat yang Masih Bingung Mengapa Ada Jurusan Aneh di Dunia Ini

Untuk kalian yang diberi Tuhan karunia masuk kuliah di jurusan yang – mohon maaf – agak kurang terkenal dan familiar di telinga, mungkin kalian akan terbiasa dengan gunjingan dan omongan tak sedap dari kebanyakan orang. Karena, kebiasaan naluriah manusia adalah menjadi makhluk yang gampang stereotyping, menggeneralisasikan suatu individu karena karakteristik kelompoknya, dan hal itu wajar!
“Kuliah di mana?”
*sebut nama kampus*
“Oh jurusan apa? Kedokteran?”
Dan biasanya, kamu hanya bisa senyum, diam, jawab seadanya, tapi ngenes dalam hati hehehehe.

Salah siapa? Itu semua salah kamu yang tidak mau menjelaskan bahwa jurusan kamu diciptakan bukan biar ada aja di kampus kamu jurusan aneh macam itu, bukan untuk mewadahi orang-orang yang kognisinya gak seberapa mampu untuk masuk kedokteran, bukan untuk ya biar anak-anak kuliah dan ada kerjaan. Bicaralah bahwa jurusan kamu ada karena lulusannya dibutuhkan dunia, dear all ladies and gentlemen!

Generalisasi jurusan itu timbul karena ketidaktahuan mereka. Di mana di zaman bapak-ibu kita masih ngedot, mungkin eksak dan segala sesuatu ke-ipa-ipa-an itu populer dan seakan manusia paling sempurna jika ia berprofesi sebagai dokter. Ya kali semua jadi dokter, siapa yang jadi pasiennya, hayo?

Selain itu, pikiran manusia zaman sekarang mulai tergeser. Dari yang dulunya ingin dapat menantu dokter, sekarang pokoknya yang kaya sajalah. Kalau kaya umumnya jadi pengusaha. Jadi cukup kamu sekolah bisnis, masa depanmu cerah bak wajah Tuhan. 

Ya, ya, siapa yang menciptakan tren kalau sekolah dokter dan sekolah bisnis adalah yang maha sempurna? Yang menciptakan pasti kalangan kita sendiri. Kita tidak mampu menjelaskan kepada masyarakat di luar sana kalau beragam profesi, kemampuan, dan bidang ilmu itu indah. Ya, padahal hidup juga di Indonesia yang masyarakatnya beragam.

Misalnya, saya sendiri yang kuliah di komunikasi. Beruntungnya jurusan saya ini, akhir-akhir ini sedang naik daun dan banyak peminatnya, jadi paling tidak namanya santer dibicarakan orang-orang. Jadi paling tidak ada variasi jawaban “Oh, itu jurusan yang lagi terkenal sekarang”. Jadi dalam hati agak lega sedikit, saya bukan makhluk aneh kan.

Banyak yang kemudian bertanya, memang kalau jurusan komunikasi kerjanya apa? Peminatannya apa? Pelajarannya apa? Ya, saya berusaha menjelaskan dengan sekuat tenaga, dengan bahasa yang mudah diterima orang pada umumnya, yang semoga mampu memberi wawasan baru tentang jurusan bau kencur ini. Karena pertanyaan itu muncul atas ketidaktahuan, bukan semata-mata olokan, kan?

Jadi, jelaskanlah kepada mereka! Jangan suka pura-pura menyimpan sakit hati dalam permenunganmu di malam hari, karena itu bikin sakit jiwa! “Oh ada ya jurusan kayak gitu? Nanti kerjanya apa ya? Oh, kalau kerjaan kayak gitu emang butuh sekolah?”. Beranilah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan miring macam itu! Siapa yang akan menghentikan cap jelek pada bidang ilmu mu, kalau bukan kamu sendiri?

Semoga setelah ini, tulisan-tulisan kalian yang mengasihani diri sendiri dan jurusan kalian di media sosial (milik) kalian itu berakhir sudah! Tulisan di timeline mu memang bisa jadi suatu aksi sosial yang luar biasa (ya kalau viral sih). Tapi, media sosial memang membuatmu seakan-akan sudah bertindak sesuatu, padahal itu adalah aksi yang semu.

Ya termasuk saya sendiri sih, melalui tulisan ini, mungkin saya juga tidak berbuat apa-apa kecuali ngomel, ngedumel, dan mengungkapkan isi hati mengenai betapa kesalnya saya dengan dua sisi manusia yang saling menggunjing hanya soal pilihan hidup seseorang untuk menekuni bidang ilmu tertentu. 
Tapi soal aksi, mungkin tak banyak yang tahu, di beberapa kesempatan sharing dengan adik-adik di SMA, saya menjelaskan panjang lebar tentang kecintaan dan kegilaan tentang hobi menulis dan jurusan ilmu komunikasi yang sedang saya jalani. Aksi itu memang kecil, tapi semoga mampu semakin membuka ketakutan mereka bakal dipukuli orang tua kalau gak masuk kedokteran atau bisnis. Dan saya tentu saja merasa masih kurang tentang aksi ini, semoga berlaku sama kepadamu.

Dan untuk masyarakat di luar sana, pasanglah telinga lebih banyak karena ciri dari ilmu pengetahuan itu TERUS BERKEMBANG! Sehingga, ke depan akan muncul ratusan dan ribuan jurusan ilmu baru di dunia ini, dan bersiaplah dengan nama-nama yang asing di telinga! Pasanglah telinga juga buat kami-kami, yang ditakdirkan Tuhan dengan talenta tidak cocok jadi dokter atau pengusaha, untuk paling tidak kami menjelaskan latar belakang jurusan kami, dan tentu saja kami akan lulus dengan harapan. Termasuk harapan memberi kehidupan yang baik bagi calon teman hidup mungkin?

Ini juga belum tentang kasus jurusan seni dan olahraga di negeri ini yang dianggapnya akan berakhir menjadi guru. Padahal dua bidang itu populer sekali di luar negeri. Negara ini sepertinya memang banyak butuh dokter dan rumah sakit yang didirikan pengusaha untuk mengatasi sakit jiwa kronis dengan gejala obsesi dan penghambaan pada profesi tertentu.

Dan untuk para orang tua, yang sudah melahirkan anaknya, semoga bisa menjadi orang tua yang baik, yang memahami serta mendukung penuh kemampuan anaknya tanpa membuat target tak masuk akal dalam hidupnya!

(Tunjukkan tulisan ini pada orang tuamu bila perlu)

18 Juli 2017/ 11:49